Manusia Dan Biota Laut
Oleh : Fatiyah Mifta Artanti (E1I023020)
I. Pendahuluan
1.1 Latar Belakang
Manusia telah memiliki hubungan erat dengan laut sejak zaman kuno. Laut menjadi sumber penghidupan, transportasi, dan eksplorasi bagi manusia. Aktivitas manusia di laut mencakup penangkapan ikan, budidaya perairan, pariwisata bahari, transportasi laut, dan eksplorasi sumber daya laut. Manusia juga telah mempengaruhi ekosistem laut melalui aktivitas seperti overfishing, polusi, dan perubahan iklim. Laut memiliki keanekaragaman hayati yang sangat tinggi, dengan berbagai jenis organisme mulai dari mikroorganisme hingga mamalia laut. Beberapa contoh biota laut yang penting adalah ikan, kerang-kerangan, krustasea, moluska, karang, plankton, dan mamalia laut seperti paus dan lumba-lumba. Biota laut memainkan peran penting dalam rantai makanan, siklus nutrisi, dan keseimbangan ekosistem laut. Namun, banyak populasi biota laut yang terancam akibat aktivitas manusia, seperti overfishing, polusi, dan perubahan iklim. Manusia bergantung pada biota laut sebagai sumber makanan, bahan baku, dan obat-obatan. Aktivitas manusia di laut juga dapat berdampak pada kelangsungan hidup biota laut, seperti kerusakan habitat, pencemaran, dan perubahan iklim. Upaya konservasi dan pengelolaan yang berkelanjutan sangat penting untuk menjaga keseimbangan antara manusia dan biota laut (Ayu, 2023).
Laut menyediakan sumber daya penting bagi manusia, seperti makanan (ikan, kerang, dll.), bahan baku (minyak, gas, mineral), dan obat-obatan (dari organisme laut). Banyak masyarakat pesisir dan pulau bergantung pada biota laut sebagai sumber penghidupan utama, seperti penangkapan ikan dan budidaya perairan. Laut juga menjadi sumber mata pencaharian bagi industri perikanan, pariwisata bahari, dan transportasi laut. Aktivitas manusia seperti overfishing, pencemaran, dan perubahan iklim telah menyebabkan penurunan populasi dan kerusakan habitat bagi banyak spesies biota laut. Polusi plastik, tumpahan minyak, dan limbah industri dapat mencemari lingkungan laut dan membahayakan organisme laut. Perubahan iklim, seperti pemanasan global dan pengasaman laut, juga berdampak pada kelangsungan hidup biota laut. Diperlukan upaya konservasi dan pengelolaan sumber daya laut yang berkelanjutan untuk menjaga keseimbangan antara manusia dan biota laut. Ini mencakup pengelolaan perikanan yang bertanggung jawab, perlindungan habitat laut, pengurangan polusi, dan adaptasi terhadap perubahan iklim. Keterlibatan masyarakat, pemerintah, dan organisasi internasional sangat penting dalam upaya konservasi dan pengelolaan sumber daya laut. Hubungan antara manusia dan biota laut sangat erat dan saling terkait. Manusia bergantung pada laut, namun juga memberikan dampak yang signifikan terhadap ekosistem laut. Upaya konservasi dan pengelolaan yang berkelanjutan sangat diperlukan untuk menjaga keseimbangan dan keberlanjutan hubungan ini (
1.2 Tujuan
1. Untuk mengetahui hubungan manusia dan biota laut
2. Untuk mengetahui macam macam tumbuhan dan biota laut serta habitat dan manfaat nya
II. Isi
2. 2. 1 Biota Laut
Biota laut adalah semua makhluk hidup yang ada di laut baik hewan maupun tumbuhan atau karang. Jadi biota laut adalah apapun yang berada dilautan, baik hewan, tumbuhan atau karang. Biota laut merupakan istilah yang merujuk pada seluruh organisme atau makhluk hidup yang hidup dan berkembang biak di lingkungan laut atau air laut. Biota laut mencakup berbagai jenis makhluk hidup, mulai dari yang sangat kecil seperti plankton hingga hewan yang besar seperti paus dan hiu. Biota laut juga mencakup berbagai tumbuhan laut seperti rumput laut dan ganggang laut. Kelompok besar biota laut terdiri dari tiga kategori utama, yaitu plankton, nekton, dan bentos. Setiap kelompok memiliki ciri khasnya sendiri dan peran penting dalam ekosistem laut (Zainul, 2019).
Biota laut memiliki banyak manfaat bagi manusia, di antaranya:.
1. Sumber pangan:
- Ikan, kerang, udang, dan berbagai jenis seafood lainnya merupakan sumber protein hewani yang penting bagi manusia.
- Rumput laut dan mikroalga laut dapat dimanfaatkan sebagai sumber pangan, suplemen, dan bahan baku industri pangan.
2. Sumber bahan baku industri:
- Berbagai jenis biota laut dapat dimanfaatkan sebagai bahan baku industri, seperti kosmetik, farmasi, tekstil, dan bahan bakar.
- Contohnya adalah pemanfaatan sponge, karang, dan alga untuk industri kosmetik dan farmasi.
3. Sumber energi:
- Mikroalga laut dapat dimanfaatkan sebagai bahan baku untuk produksi biofuel.
- Biomassa dari berbagai biota laut dapat dikonversi menjadi bahan bakar.
4. Jasa ekosistem:
- Ekosistem laut menyediakan jasa ekosistem yang penting bagi manusia, seperti penyerapan karbon, perlindungan pantai, dan pariwisata bahari.
- Terumbu karang dan hutan mangrove berperan dalam melindungi pantai dari erosi dan gelombang.
5. Sumber pengetahuan dan penelitian:
- Biota laut menjadi objek studi dan penelitian di berbagai bidang, seperti biologi, farmakologi, dan bioteknologi.
- Pengetahuan tentang biota laut dapat dimanfaatkan untuk pengembangan obat-obatan, teknologi, dan inovasi lainnya.
Pemanfaatan biota laut secara berkelanjutan sangat penting untuk menjaga keseimbangan ekosistem laut dan memastikan ketersediaan sumber daya bagi generasi mendatang (Yayan, 2021).
2.1.1 Jenis Jenis Biota Laut
Biota laut dapat digolongkan menjadi tiga jenis, berdasarkan sifatnya berikut ini:
A. Zooplankton
Zooplankton adalah jenis organisme yang sebagian besar hidupnya diperairan permukaan dengan ukuran tubuh lebih dari 0,05 mm. Zooplankton adalah mencakup organisme termasuk protozoa kecil dan metazoans besar. Spesies zooplankton tidak menyebar merata tetapi secara acak di dalam suatu wilayah laut. Sumber makanan dari zooplankton adalah fitoplankton (Hanung dan Johanis, 2020).
B. Fitoplankton
Fitoplankton adalah organisme mikroskopis yang hidupnya di zona eufotik (permukaan remang) laut yang mampu mensistensis makanannya sendiri yaitu berupa bahan organik yang proses dari bahan-bahan anorganik dengan bantuan sinar matahari.
Bentik merupakan biota laut yang hidupnya didaerah dasar atau pada umumnya bersifat merayap yang dapat terdiri dari hewan dan tumbuhan.
Menempel: sponge, teritip, tiram, dan lainnya
Merayap: kepiting, udang karang yang kecil dan lainya
Meliang: cacing, kerang dan lainya
Sumber utama makanan organisme bentik adalah ganggang serta limpasan organik dari tanah. Faktor suhu, salinitas, kedalaman air, serta jenis subtrat lokal sangat berpengaruh terhadap perkembangan organisme bentik (Samria, 2021).
2.2.2 Upaya Dalam Menjaga Biota Laut
Ternyata memang ada banyak sekali jenis biota laut yang dimana, keberadaannya memiliki peran yang berarti bagi hidup manusia. Tetapi sekarang ada banyak masalah yang mengancam kelestarian biota laut tersebut, yaitu terjadinya kepunahan masal. Hal ini disebabkan oleh beberapa faktor diantaranya yaitu kombinasi dari temperaturnya yang tinggi, pengasaman, dan minimnya jumlah oksigen. Menurut studi perubahan iklim dan penangkapan ikan yang terjadi tidak terkendali, juga menjadi salah satu faktor penyebab dari kepunahan kehidupan laut tersebut. berikut ini beberapa upaya yang dapat dilakukan untuk menjaga biota laut :
- Melestarikan hutan bakau yang letaknya berada di dekat pantai.
- Larangan terhadap pengambilan dari terumbu karang yang menjadi habitat bagi beberapa ikan.
- Larangan pada penggunaan bahan peledak atau kimia lainnya, dan penggunaan pukat harimau untuk menangkap ikan.
- Tidak membuang sampah atau limbah industri ke lautan ( Renita dan Agus, 2022).
Indonesia memiliki laut dengan potensi sumber daya kelautan yang sangat kaya. sumber daya bahari merupakan unsur hayati dan nonhayati yang ada di wilayah laut. Potensi sumberdaya bahari Indonesia tidak hanya berupa ikan, namun juga yang berada di bawah permukaan laut.
Berikut ini merupakan persebaran biota laut di perairan Indonesia :
1. Perikanan
Indonesia memiliki potensi sumberdaya perikanan yang sangat baik dari segi jumlah serta keanekaragamannya. menurut Departemen Kelautan dan Perikanan, potensi perikanan laut Indonesia terdiri atas perikanan pelagis yang tersebar hampir di semua bagian laut Indonesia.
di Indonesia bagian barat, jenis ikan yang banyak ditemukan adalah ikan pelagis kecil. di Indonesia bagian timur, banyak ditemukan ikan pelagis besar , cakalang, dan tuna.
Selain ikan yang tersedia di lautan, penduduk Indonesia pula banyak membudidayakan ikan, terutama di daerah pesisir dengan jenis ikan bandeng dan udang.
Potensi wilayah pesisir serta samudera Indonesia dipandang dari segi perikanan meliputi:
a. Perikanan bahari (Tuna/Cakalang, Udang, Demersal, Pelagis kecil, dan lainnya) lebih kurang 4.948.824 ton/tahun.
b. Mariculture (rumput laut, ikan, serta kerang-kerangan dan mutiara) sebanyak 528.403 ton/tahun.
c. Perairan umum 356.020 ton/tahun, budidaya tambak 100 ton/tahun, serta budidaya air tawar 1.039,100 ton/tahun (Amalia, 2019)
2. Hutan Mangrove
Hutan mangrove merupakan hutan khas yang hidup di sepanjang pantai pada daerah tropis yang ditentukan sang pasang surut air bahari. banyak ada di pesisir timur Sumatera, pesisir Kalimantan, dan pesisir selatan Papua.
ada 2 fungsi hutan mangrove menjadi potensi asal daya bahari di Indonesia yaitu fungsi ekologis serta ekonomi.
Fungsi ekologis hutan mangrove ialah sebagai habitat (tempat hidup) binatang bahari buat berlindung, mencari makan, dan berkembang biak. Fungsi ekologis yang lain asal hutan mangrove ialah buat melindungi pantai berasal abrasi air bahari.
Fungsi ekonomis hutan mangrove berupa nilai irit dari kayu pepohonan dan makhluk hidup yang terdapat pada dalamnya.
umumnya, penduduk memanfaatkan kayu sebagai bahan kayu bakar atau bahan pembuat arang. Kayu bakau jua dapat dijadikan bahan penghasil kertas. Selain kayu, hutan mangrove pula dihuni oleh beragam jenis fauna.
Luas sebaran hutan mangrove ada di beberapa wilayah, di antaranya:
a. Papua yaitu 3,6 juta hektar
b. Kalimantan kurang lebih 165 ribu hektar
c. Sumatera 417 ribu hektar
d. Sulawesi 53 ribu hektar
e. Jawa 34,4 ribu hektar
f. Bali dan Nusa Tenggara 3,67 hektar.
Perkembangan hutan mangrove ditentukan oleh air laut (pasang), air tawar menjadi asal makanannnya, serta endapan (sedimentasi) lumpur yang substratnya dari asal erosi wilayah hulu. Berikut peta persebaran hutan mangrove pada Indonesia (Bekti, 2017).
3. Terumbu Karang
Terumbu karang artinya terumbu (batuan sedimen kapur pada bahari) yang terbentuk dari kapur yang sebagian besar didapatkan berasal koral (hewan yang menghasilkan kapur buat kerangka tubuhnya). Jika ribuan koral membentuk koloni, koral-koral tadi akan membentuk karang.
menjadi negara kepulauan, Indonesia artinya negara yang mempunyai terumbu karang terluas di dunia. Kekayaan terumbu karang Indonesia tidak hanya asal luasnya, tapi pula keanekaragaman biologi yang ada pada dalamnya. Keanekaragaman biologi terumbu karang menjadi potensi asal daya laut pada Indonesia pula yang tertinggi di global.
di dalamnya terdapat dua.500 jenis ikan, dua.500 jenis moluska, 1.500 jenis udang-udangan, dan 590 jenis karang. Manfaat terumbu karang tersebut adalah manfaat ekonomi, manfaat ekologis, serta manfaat sosial ekonomi. Manfaat ekonomi adalah menjadi sumber kuliner, obat-obatan, dan objek wisata bahari.
Manfaat ekologis di antaranya mengurangi hempasan gelombang pantai yang bisa membuahkan terjadinya pengikisan. Manfaat sosial ekonominya artinya menjadi sumber perikanan yang dapat menaikkan pendapatan para nelayan.
Terumbu karang pula bisa menjadi daya tarik objek wisata yang dapat menaikkan pendapatan penduduk kurang lebih asal kegiatan pariwisata Sebaran terumbu karang banyak ditemukan pada bagian tengah daerah Indonesia mirip pada Sulawesi, Bali, Lombok, serta Papua. Konsentrasi terumbu karang pula ditemukan pada Kepulauan Riau, pantai barat dan ujung barat Sumatera (Apri dkk, 2018).
4. Padang Lamun
Padang lamun ialah tumbuhan tinggi yang telah sepenuhnya menyesuaikan diri hidup terendam di dalam bahari. Lamun tumbuh subur di wilayah terbuka pasang surut dan perairan pantai yang dasarnya berupa lumpur, pasir, kerikil, serta patahan karang meninggal, menggunakan kedalaman sampai empat meter.
Lamun dapat membentuk suatu padang lamun. Padang lamun beredar di bahari perairan Indonesia. Manfaat lamun pada lingkungan perairan dangkal adalah menjadi pembuat utama, habitat biota, penangkap sedimen, dan pendaur zat hara (Salsa, 2022).
III. Penutup
3.1 Kesimpulan
Ketergantungan manusia pada sumber daya laut: Manusia sangat bergantung pada laut sebagai sumber makanan, energi, dan berbagai kebutuhan lainnya. Laut menyediakan sumber daya yang sangat penting bagi kehidupan manusia. Dampak aktivitas manusia terhadap biota laut: Berbagai aktivitas manusia seperti penangkapan ikan yang berlebihan, pencemaran, dan kerusakan habitat telah memberikan dampak negatif yang signifikan terhadap ekosistem laut dan keanekaragaman hayati di dalamnya. Pentingnya konservasi dan pengelolaan laut yang berkelanjutan: Untuk menjaga kelestarian biota laut, diperlukan upaya konservasi dan pengelolaan sumber daya laut secara bijaksana dan berkelanjutan. Hal ini mencakup pengaturan aktivitas manusia, perlindungan habitat, dan pengelolaan perikanan yang bertanggung jawab. Peran masyarakat dalam menjaga kelestarian laut: Selain upaya pemerintah dan pemangku kepentingan lainnya, peran serta masyarakat juga sangat penting dalam menjaga kelestarian laut melalui perubahan perilaku, partisipasi dalam program konservasi, dan kesadaran akan pentingnya menjaga lingkungan laut. Keseimbangan antara pemanfaatan dan pelestarian: Diperlukan keseimbangan antara pemanfaatan sumber daya laut untuk memenuhi kebutuhan manusia dan upaya pelestarian ekosistem laut agar dapat dimanfaatkan secara berkelanjutan.
Daftar Pustaka
Aulia, Ayu. 2023. Dampak mikro plastik pada lingkungan pesisir biota laut. Jurnal kesehatan
lingkungan indonesia. 22(3): 338-341.
Muzamil, Wahyu., Aminatul. Z., dan Yulia. O. 2023.
Peningkatan kesadaran masyarakat terhadap
biota laut di kepulauan Riau. Jurnal pengabdian
masyarakat. 5(3): 356-365.
Arifin, Zainul. 2019. Analisis keanekaragaman biota
laut sebagai daya tarik wisata di Bali. Jurnal ilmu
dan teknologi kelautan tropis. 11(2): 335-340.
Sanjaya, Yayan. 2021. Peningkatan keterampilan berpikir kristis pada konsep biota laut. Jurnal biologi dan pendidikan biologi. 6(2):68-78.
Mulyadi, Hanung dan Johanis. 2020. Biodiversitas
zooplankton di perairan pesisir pulau keffing.
Jurnal kelautan tropis. 23(1): 15-28.
Abubakar, Samria. 2021. Distribusi spasial dan
temporal fitoplankton di perairan laut tropis.
Journal of marine since and technologhy. 14(2):
149-163.
Manurung, Renita., Agus. A. 2022. Tuasan bentuk
Kearifan lokal nelayan tradisional untuk
peningkatan hasil tangkapan juga pelestarian
biota laut. Jurnal pelita masyarakat. 4(1):33-42.
Jalaludin, Muzani., Ika. N. O., dan Nurani.P.P. 2020
Padang lamun sebagai ekosistem penunjang
kehidupan biota laut di kepulauan seribu.
Jurnal geografi gea. 20(1): 44-53.
Diamantina, Amalia. 2019. Konsep negara kepulauan
dalam upaya perlindungan wilayah pengolahan
perikanan indonesia. Jurnal masalah masalah
hukum. 48(3): 242-248.
Utomo, Bekti. 2017. Strategi pengolahan hutan
mangrove di kabupaten jepara. Jurnal ilmu
lingkungan. 12(2):117-123.
Arisandi, Apri., Badrud. D., dan Fauzan. A. 2018.
Profil terumbu karang pulau kangean kabupaten
sumenep. Jurnal ilmiah perikanan dan kelautan.
10(2): 76-83.
Dianty, Salsa. 2022. Metode transplansi ekosistem
padang lamun di indonesia. Jurnal pendidikan. 4(6)
: 76-82.
Komentar
Posting Komentar