PARAMETER KUALITAS AIR

 Fatiyah Mifta Artanti (E1I023020)

       Parameter kualitas air adalah ukuran-ukuran tertentu yang digunakan untuk menilai kondisi suatu sumber air, baik dari segi fisika, kimia maupun biologi. Parameter ini menggambarkan seberapa baik atau buruk air untuk berbagai fungsi seperti konsumsi manusia, irigasi, kegiatan industri, maupun kehidupan organisme akuatik. Pengukuran parameter kualitas air penting karena dapat mendeteksi pencemaran, memastikan keselamatan penggunaan air, serta mendukung perlindungan ekosistem air secara berkelanjutan. Parameter kualitas air biasanya dipantau secara berkala untuk memahami fluktuasi yang dipengaruhi oleh aktivitas alami maupun antropogenik. Penilaian kualitas air berdasarkan parameter-parameter ini juga merupakan dasar penyusunan indeks mutu air dan peraturan baku mutu lingkungan. 

        Parameter kualitas air dibagi menjadi tiga kategori besar: fisika, kimia, dan biologi. Parameter fisika mencakup ukuran sifat fisik air seperti suhu, kekeruhan, dan total padatan terlarut yang mempengaruhi proses fisik di dalam air. Parameter kimia meliputi pH, oksigen terlarut, bahan organik, dan nutrien yang mencerminkan komponen kimia di dalam air. Sedangkan parameter biologi biasanya melihat indikator mikrobiologi seperti koliform total yang berhubungan dengan kontaminasi biologis. Kombinasi pengukuran dari ketiga jenis parameter ini membantu menentukan apakah air layak atau tidak untuk peruntukan tertentu sesuai standar kualitas air.  

Contoh Parameter Kualitas Air Beserta Alat : 

1. Suhu Air

       Suhu air merupakan parameter fisika yang menunjukkan tingkat panas suatu perairan dan sangat memengaruhi proses biologis serta kimia di dalam air. Suhu yang terlalu tinggi dapat menurunkan kelarutan oksigen terlarut dan mengganggu kehidupan organisme akuatik. Perubahan suhu juga dapat mempercepat reaksi kimia, termasuk proses pembusukan bahan organik. Suhu air dipengaruhi oleh intensitas cahaya matahari, kedalaman air, dan kondisi lingkungan sekitar. Alat yang digunakan untuk mengukur suhu air adalah termometer air atau multiparameter water quality meter.



2. pH (Derajat Keasaman)

       pH menunjukkan tingkat keasaman atau kebasaan air yang berpengaruh terhadap stabilitas ekosistem perairan. Nilai pH yang terlalu asam atau basa dapat menyebabkan kematian organisme air dan meningkatkan toksisitas zat kimia tertentu. pH juga memengaruhi kelarutan nutrien dan logam berat di dalam air. Air dengan pH netral hingga sedikit basa umumnya lebih stabil bagi kehidupan akuatik. Alat yang digunakan untuk mengukur pH adalah pH meter digital atau kertas indikator pH.


3. Oksigen Terlarut (Dissolved Oxygen/DO)

         Oksigen terlarut merupakan jumlah oksigen yang tersedia di dalam air dan dibutuhkan oleh organisme untuk respirasi. Kadar DO yang rendah dapat mengindikasikan adanya pencemaran organik atau proses eutrofikasi. DO dipengaruhi oleh suhu, fotosintesis fitoplankton, serta turbulensi air. Nilai DO yang cukup menandakan kondisi perairan yang sehat dan seimbang. Alat yang digunakan untuk mengukur DO adalah DO meter atau sensor oksigen terlarut.


4. Biochemical Oxygen Demand (BOD)

        BOD adalah parameter kimia yang menunjukkan jumlah oksigen yang dibutuhkan mikroorganisme untuk menguraikan bahan organik dalam air. Nilai BOD yang tinggi menandakan tingginya pencemaran bahan organik dari limbah domestik atau industri. BOD berhubungan erat dengan penurunan oksigen terlarut di perairan. Parameter ini penting dalam menilai tingkat pencemaran air sungai dan limbah cair. BOD diukur menggunakan botol BOD dan inkubator BOD selama inkubasi 5 hari.

                             


5. Chemical Oxygen Demand (COD)

     COD menunjukkan jumlah oksigen yang dibutuhkan untuk mengoksidasi bahan organik dan anorganik secara kimia. Parameter ini menggambarkan total kandungan zat pencemar yang dapat teroksidasi dalam air. COD biasanya memiliki nilai lebih tinggi dibandingkan BOD karena mencakup semua senyawa teroksidasi. Parameter ini sering digunakan dalam analisis kualitas air limbah industri. Alat yang digunakan untuk mengukur COD adalah reaktor COD dan spektrofotometer.


6. Total Dissolved Solids (TDS)

         TDS adalah jumlah seluruh zat padat terlarut dalam air seperti mineral, garam, dan bahan organik. Kadar TDS yang tinggi dapat memengaruhi rasa, kejernihan, serta kesesuaian air untuk konsumsi dan irigasi. TDS juga mencerminkan tingkat mineralisasi air. Nilai TDS berhubungan erat dengan konduktivitas listrik air. Alat yang digunakan untuk mengukur TDS adalah TDS meter atau conductivity meter.


7. Total Suspended Solids (TTS)

        TSS merupakan jumlah partikel padat yang tersuspensi di dalam air seperti lumpur, pasir halus, dan organisme kecil. Nilai TSS yang tinggi dapat mengurangi penetrasi cahaya dan menghambat proses fotosintesis. Partikel tersuspensi juga dapat menjadi pembawa zat pencemar lainnya. TSS sering meningkat akibat erosi dan aktivitas manusia di sekitar perairan. TSS diukur menggunakan metode filtrasi dengan kertas saring dan oven pengering.


8. Nitrat (NO₃⁻)

        Nitrat adalah salah satu nutrien penting yang berasal dari limbah pertanian, pupuk, dan domestik. Konsentrasi nitrat yang berlebihan dapat menyebabkan eutrofikasi dan ledakan alga di perairan. Nitrat dalam kadar tinggi juga berbahaya bagi kesehatan manusia jika terdapat dalam air minum. Parameter ini sering digunakan untuk menilai dampak aktivitas pertanian terhadap kualitas air. Nitrat diukur menggunakan spektrofotometer atau test kit nitrat.


Daftar Pustaka

Adiwibowo, R., Prasetyo, A., dan Lestari, D. (2023). Analisis Parameter Fisika dan Kimia Air Sungai Perkotaan sebagai Indikator Pencemaran. Jurnal Ilmu Lingkungan. 21(2): 215–224.

Amin, M., Rahman, F., dan Yuliana, S. (2022). Kajian Kualitas Air Berdasarkan Parameter DO, BOD, dan COD di Perairan Sungai. Jurnal Sumberdaya Air. 19(1): 45–54.

Andini, N., Hidayat, T., dan Putra, R. (2024). Evaluasi Parameter Kimia Air untuk Menentukan Status Mutu Perairan. Jurnal Teknik Lingkungan. 27(3): 301–310.

Ardiansyah, I., Sari, M. P., dan Nugroho, A. (2023). Analisis Total Suspended Solid (TSS) dan Dampaknya terhadap Kecerahan Perairan. Jurnal Kelautan Tropis. 26(1): 33–41.

Fitriani, E., Kusuma, D. W., dan Santoso, H. (2021). Hubungan Parameter Fisika-Kimia Air terhadap Kehidupan Organisme Akuatik. Jurnal Biologi Perairan. 15(2): 89–98.

Halim, A., Ramadhan, B., dan Putri, L. A. (2022). Analisis Kualitas Air Berdasarkan Parameter Nutrien Nitrat dan Fosfat. Jurnal Ilmu Perikanan dan Kelautan. 16(1):  55–64. 

Kurniawan, D., Pratiwi, N. T. M., dan Yustina, Y. (2023). Penentuan Status Mutu Air Menggunakan Parameter Fisika dan Kimia. Jurnal Pengelolaan Lingkungan Berkelanjutan. 7(2): 140–149. 

Lestari, P., Widodo, S., dan Handayani, R. (2021). Kajian Parameter pH dan Suhu sebagai Penentu Kualitas Air Permukaan. Jurnal Sains Lingkungan. 1(18): 12–20.

Permana, A. R., Sulistyo, B., dan Wibowo, M. A. (2024). Analisis Total Dissolved Solid (TDS) untuk Menilai Kelayakan Air Bersih. Jurnal Teknik Sipil dan Lingkungan.  9(3): 187–195.

Yusuf, M., Zahra, N., dan Alamsyah, R. (2025). Karakteristik Kualitas Air Berdasarkan Parameter Fisika, Kimia, dan Biologi. Jurnal Penelitian Lingkungan Hidup. 14(2): 101–110. 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 






Komentar

Postingan populer dari blog ini

Menurunnya Kualitas Air Laut Akibat Aktivitas Manusia: Studi Kasus Teluk Jakarta

Manusia Dan Biota Laut